• +62 21 351 4348
  • sekretariat@dppinsa.com

Pelaku Usaha Optimistis Prospek Sektor Pelayaran di Tahun 2026

Pelaku Usaha Optimistis Prospek Sektor Pelayaran di Tahun 2026

Industri pelayaran menatap sangat optimistis di tahun 2026. Meningkatnya aktivitas proyek minyak dan bumi serta pertambangan maupun kiriman bahan kebutuhan pokok dalam negeri menjadi pertanda bahwa sektor pelayaran memiliki prospek menjanjikan di 2026.

PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) menatap tahun 2026 dengan optimisme yang lebih besar, seiring ekspektasi meningkatnya aktivitas proyek minyak dan gas (migas) di Indonesia pada paruh kedua tahun depan. Meski menghadapi tantangan global sepanjang 2025, perseroan menilai peluang industri pelayaran offshore masih terbuka lebar.

Investor Relations WINS, Pek Swan Layanto, mengungkapkan bahwa target utilisasi armada sebesar 75% pada tahun ini tidak tercapai. Hal tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor di luar ekspektasi perseroan, terutama meningkatnya ketidakpastian global akibat kebijakan tarif Amerika Serikat yang berdampak pada industri energi. “Kondisi global membuat kontrak kerja cenderung lebih pendek. Aktivitas proyek sebenarnya ada, tetapi banyak yang ditunda ke 2026,” ujar Pek Swan seperti dikutip Kontan, Kamis (25/12).

Meski demikian, WINS masih mampu menutup tahun dengan kinerja yang relatif positif. Kenaikan harga sewa kapal, khususnya untuk segmen high tier vessel, melampaui proyeksi awal dan menjadi penopang utama profitabilitas perseroan. “Harga sewa naik lebih cepat dari yang kami perkirakan, terutama kapal high tier. Permintaan datang dari beberapa proyek yang masih berada di fase eksplorasi di Indonesia,” jelasnya.

Di sisi lain, WINS juga memperkuat struktur bisnisnya dengan mendirikan anak usaha baru yang fokus pada pengelolaan kapal. Langkah ini dilakukan seiring pertumbuhan armada dan ekspansi ke luar negeri. “Tujuan pendirian anak usaha ini untuk men-streamline operasi dan meningkatkan efisiensi. Ke depan, kami berharap bisa berdampak positif terhadap margin perseroan,” kata Pek Swan.

Memasuki 2026, WINS melihat prospek industri pelayaran offshore akan membaik. Optimisme tersebut ditopang oleh komitmen pemerintah Indonesia untuk meningkatkan produksi migas nasional serta mulai diumumkannya sejumlah tender pekerjaan yang akan berjalan pada paruh kedua 2026. “Kami melihat 2H 2026 akan lebih baik dibandingkan 1H 2026, karena beberapa proyek di Indonesia diperkirakan mulai lebih aktif,” ujarnya.

Dari sisi armada, WINS memastikan masih akan melanjutkan ekspansi. Perseroan berencana menambah kapal baru pada 2026, termasuk satu kapal high tier yang saat ini tengah dibangun di China dan ditargetkan beroperasi pada akhir 2026. “Fokus kami ke depan adalah menambah kapal high tier, sekaligus mencari peluang untuk melepas kapal mid to low tier agar komposisi armada lebih optimal,” jelas Pek Swan.

Selain itu, WINS juga membuka peluang untuk mengakuisisi kapal tambahan apabila terdapat kesempatan yang menarik. Model kapal high tier dinilai masih menjadi segmen paling prospektif seiring kebutuhan proyek migas yang semakin kompleks. “Kami terus mencari peluang ekspansi armada yang sesuai dengan strategi jangka panjang perseroan,” pungkasnya.

Sementara itu, PT Trans Power Marine Tbk (TPMA) memandang prospek bisnis 2026 tetap positif di tengah dinamika yang terjadi di industri transportasi laut. Direktur Trans Power Marine, Rudi Sutiono menjelaskan bahwa untuk rencana tahun depan perseroan akan berfokus pada penguatan armada serta peningkatan keandalan layanan, sejalan dengan permintaan pelanggan. “Untuk tahun 2026, prospek ekspansi Perseroan tetap berada pada arah yang positif dan terukur,” ujar Rudi.

Terkait rencana penambahan armada, pihaknya saat ini masih menunggu konfirmasi jadwal pengiriman unit-unit baru, apakah dapat dikirimkan pada akhir tahun ini atau bergeser ke tahun depan. Unit tersebut merupakan pesanan yang telah dilakukan sejak awal tahun ini dan tahun sebelumnya. Menurut Rudi, penambahan armada ini akan memperkuat kapasitas operasional sekaligus meningkatkan fleksibilitas layanan pada berbagai rute.

Dari sisi layanan, TPMA akan menjaga kualitas dan menyesuaikan rute dengan pola permintaan pelanggan seperti memastikan keandalan pengiriman, serta menjaga standar keselamatan dan efisiensi operasional di setiap koridor.  “Berdasarkan pengalaman kami di tahun 2016, kami yakin dapat melewati badai ekonomi di tahun depan dan bahkan lebih baik lagi,” jelasnya.

Meski ekspansi tetap berjalan sesuai pipeline, TPMA belum menyiapkan rencana belanja modal atau Capital Expenditure (Capex) tambahan untuk 2026, di luar pesanan armada yang telah dilakukan pada awal tahun ini dan tahun sebelumnya. Fokus perseroan saat ini adalah memastikan proses pengiriman dan penyerahan unit-unit tersebut berjalan sesuai jadwal, sehingga kapasitas yang sudah direncanakan dapat mulai berkontribusi pada operasional.

“Kami akan terus mengevaluasi kebutuhan pasar dan perkembangan permintaan dari para pelanggan. Jika terdapat peluang atau kebutuhan strategis yang muncul, kami terbuka untuk meninjau kembali rencana capex secara selektif dan terukur,” tambahnya. Memasuki 2026, perseroan juga menyiapkan strategi untuk menjaga profitabilitas di tengah fluktuasi biaya bunker dan operasional. Rudi menjelaskan bahwa TPMA telah memiliki formula penyesuaian harga dalam struktur biaya pengangkutan.

Dari sisi operasional, TPMA memperkuat efisiensi dan ketepatan layanan. Upaya tersebut mencakup bunker monitoring yang lebih ketat, penggunaan teknologi seperti GPS tracking dan sistem monitoring mesin, hingga optimalisasi rute dan utilisasi armada.

  • By admin
  • 14 Jan 2026
  • 18
  • INSA